Sabtu, 01 September 2018

Pengalamanku semalam di kantor Aparat Penegak Hukum


Pada tahun 1998-1999, penulis bekerja di sebuah perusahaan Ekspedisi atau yang lebih keren di kenal nama perusahaan Freight Forwading dan EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal laut), dikarenakan ada lowongan yang menarik dimana sebuah perusahaan pelayaran nasional di Jawa Timur membutuhan tenaga dimana penulis masuk dalam kualifikasi yang dibutuhkan. Penulis melamar lowongan perusahaan tersebut dan 2 Minggu kemudian penulis mendapat panggilan untuk test dan interview.

Di saat penulis bingung bagaimana mendatangi panggilan kerja tersebut, penulis ingat salah satu teman satu angkatan kuliah di Fakultas Hukum negeri di kota semarang tempat penulis menimba ilmu ada yang menjadi aparat penegak hukum di ibukota Jawa Timur, makanya penulis mencari info nomer yang bisa di hubungi dan ternyata teman welcome akan membantu selama penulis memenuhi panggilan kerja tersebut. Menurut info dari teman posisi perusahaan yang akan penulis datangi tepat di belakang kantor tempat dia bekerja, yaitu dekat Jembatan Merah, seingat penulis di situ ada hotel Ibis dan Mall Jembatan Merah.


Alkisah penulis memutuskan untuk naik travel saja daripada nyasar kemana-mana karena memang penulis masih awam daerah sana, sampai tujuan jam 06.00 pagi dan teman penulis sudah menunggu di kantor, memang menurut penuturannya sering tidur di Musholla kantornya.

Setelah itu penulis numpang mandi dan berangkat ke tempat test kerja, ternyata letak tempat test tepat dibelakang kantor teman penulis sehingga penulis cuma jalan kaki sudah sampai. Dalam sesi test IQ, penulis di nyatakan lolos dan dilanjutkan sesi interview ke esokan harinya, sebenarnya penulis pingin cepet selesai tapi apa daya prosedur test seperti itu, mau tidak mau penulis harus menginap di kota ini.

Teman penulis bener-bener teman yang baik hati meski waktu kuliah bukan termasuk teman yang akrab, tapi dia menganggap penulis seperti saudara yang sedang membutuhkan bantuan. Selesai mandi dan sholat Maghrib di musholla yang menjadi base camp, penulis sempat jalan-jalan di mall dan cari makan malam. Sambil makan kita ngobrol-ngobrol kalau temen dengan bangganya cerita habis menangkap anak pejabat nomer satu di Jawa timur karena mabuk, membawa narkoba dan nabrak gerobak bakso. Pejabat tersebut yang kita kenal juga seorang penyanyi yang lagunya hit pada waktu itu, judulnya Tidak semua laki-laki. keberanian dari temen menangkap anaknya karena waktu itu sedang gempar-gemparnya nuansa Reformasi, presidennya waktu itu kalau nggak salah Gus Dur dan wakilnya Ibu Megawati.

Selanjutnya ini yang menarik penulis ceritakan lebih lanjut, sekembali dari jalan-jalan, penulis melihat sisi lain dari suatu instansi penegak hukum, dimulai dari gerbang penulis masuk sudah ada sekitar 4 orang, kata teman penulis mereka itu satpam dan tukang parkir kantor, mereka di depan pos jaga membunyikan tape recorder kecil kalau nggak salah nyetel lagunya Evitamala sambil joget-joget, katanya mereka merayakan ulang tahun salah satu dari mereka, nggak ada yang aneh tapi ketika kita di tawari minuman, barulah ada yang aneh, mereka joged-joged sambil minum miras, teman cuma senyum-senyum dan penulis pikir, dia tidak akan mau tawarannya karena dia termasuk golongan putih....hehehehe

Belum hilang kagetnya penulis melihat pemandangan tersebut, penulis masuk ke dalam suatu ruangan, ya Allah ruangan itu mungkin tempat istirahat, penuh dengan kepulan asap rokok, di situ ada sekitar 5 orang pada copot seragam, pakai kaos dalam ternyata baru sedang main kartu pakai uang atau judi, ada satu bapak-bapak yang lumayan gemuk mengisap cerutu, menurut teman cerutu itu barang sitaan...! karena teman dan penulis tidak kuat bau asap cerutu keluar ruangan, di suatu ruangan terdengar suara mesin ketik, penulis lihat seseorang sedang mengetik dengan mesin ketik yang besar, kata teman penulis dia baru nglembur bikin BAP buat besok, waktu penulis bilang wah rajin ya teman kerjamu, penulis di suruh mengamati dia, sesekali dia seperti minum di gelas besar, sambil tertawa temen penulis cerita kalau yang di isap itu jenis narkoba yang sekarang baru ngetren di pakai para selebritis dan juga barang sitaan, katanya buat doping....waduh lagi-lagi penulis geleng-geleng kepala.

Berhubung masih di kota tempat satu-satunya sahabat cewek waktu kuliah, dan punya nomer telepon rumahnya, iseng-iseng penulis pingin menghubungi dia, sekadar pingin tahu kabarnya menurut temen ada ada telepon umum di depan, pada waktu itu  telepon umum yang canggih pakai kartu. Ketika penulis ke tempat telepon, di situ sudah ada yang lagi asyi telepon, karena lama temen menyusul penulis di telepon umum, dia langsung bilang ke teman yang telepon tersebut kalau mau pakai, lagi-lagi yang membuat penulis kaget ternyata dia bawa gagang telepon sendiri, entah bagaimana caranya dia bisa telepon tanpa menggunakan kartu untuk menelpon pacarnya yang kerja satu instansi tetapi di tempatkan di Menado tapi sialnya temen yang di hubungi penulis sedang keluar, tidak seperti sekarang kita kemana-mana bisa di hubungi karena bawa handphone......

Akhirnya penulis memutuskan untuk tidur saja di Musholla dan pagi jam 07.00 selesai mandi, kantor sudah ada aktifitas, para OB sudah bikin minuman di kasih di kantor-kantor, pokoknya sudah ramailah....ada pemandangan lagi yang tak dapat di lupakan, 2 remaja yang di titipkan di kantor katanya tadi malam tertangkap menggergaji rel kereta yang sudah tidak dipakai lagi untuk di jual, setelah di introgasi dari ujung kantor dalam posisi terborgol setiap lewat pintu kantor ada aja petugas yang mukul kepala atau menendang, persis film-film jaman kolonial kalau pejuang kita tertangkap Belanda. Sesampainya di sebuah krangkeng kira-kira ukuran 1,5 X 2 m yang awalnya penulis kira buat kandang burung ternyata buat ngurung mereka dan barang buktinya besi rel kira-kira panjang 50 cm. Ada petugas keluar kantor membawa gelas isinya masih setengahnya langsung di cipratkan ke mereka dengan kata-kata keras tanya dari mana, di jawab mereka dengan lemah dari Madura....nggak tega penulis melihatnya. Kemudian penulis cepat-cepat ke tempat interview.

Setelah interview penulis di nyatakan di terima kerja di perusahaan tersebut, tapi yang membuat penulis mundur karena gaji yang di terima hampir sama dengan tempat kerja di Semarang dan yang langsung penulis memutuskan untuk kembali ke tempat kerja sebelumnya adalah ada klausul bahwa selama masa percobaan 1 tahun, ijasah asli di kumpulkan dengan alasan perusahaan sudah mengeluarkan biaya buat membuat seragam, karena kita memang langsung ukur seragam dan selama masa training kita di tempatkan di beberapa pelabuhan di Indonesia, seperti bakahuni, pelabuhan Bali, Lombok dll dan di beri uang tunjangan, tapi banyak pegawai baru yang kerja baru beberapa bulan pada ngacir tanpa pamit.....wah kalau ini sudah nggak bener.

Penulis memutuskan pulang saja kembali kerja di tempat sebelumnya yang kemarin sudah ijin 2 hari beruntung atasan penulis tahu dan mau mengerti niat penulis jadi tidak masalah dan sekali lagi teman penulis memang bener-bener teman sejati, penulis di antar ke terminal bus, sekali lagi penulis dibuat senyum kecut, penulis di antar naik sepeda motor Yamaha Alfa, motor anak muda 2 tak sepintas nggak ada yang aneh tapi di sepion ada selembar kertas tulisannya barang sitaan, waktu penulis tanya apa nggak masalah nanti, jawab teman penulis enteng, kamu lihat mobil Merzy warna biru laut di depan tadi di spionnya khan juga ada tulisan barang sitaan, itu di pakai atasanku......hahahaha

Pengalaman ini di tulis dengan sebenar-benarnya tidak mungkin penulis mengarang alur cerita yang di buat-buat, penulis tidak mendiskreditkan atau menjelek-njelekan suatu instansi penegak hukum, tapi bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi, kenapa sudah 20-an tahunan tidak lupa, karena itu salah salah satu roda kehidupan yang pernah penulis alami dan dianggap pengalaman yang luar biasa dalam hidup penulis...............

+++++++++++++ ************* +++++++++++++++

Jumat, 31 Agustus 2018

Hidup Itu Bagai Roda yang Berputar (eks Karyawan Pabrik Karung Delanggu Riwayatmu Kini)

Dulu apabila pergantian shift ditandai suara meraung-raung radius 1 Km masih terdengar, ribuan sepeda berhamburan keluar menuju ke segala arah untuk pulang
Penulis mengalami masa paling bahagia di waktu kecil ketika tinggal di Rumah Dinas di Delanggu,  di mana orang tua penulis menjadi karyawan PTPN XVII Karung Goni dan Perkebunan Serat Rosella, di Delanggu, Klaten kurun waktu 1968-1975 dan kembali 1980-1984, Kalau memori ini kembali di ulang, bagaimana bunyi sirine yang meraung-raung seperti pertanda ada serangan udara pada masa revolusi, itu menandakan pergantian shift kerja, di ikuti ribuan pasukan sepeda berhamburan bak sarang semut atau lebah yang di usik, menyebar ke segala penjuru jalan menuju ke rumahnya masing-masing setelah lelah bekerja. Adapun waktu shift terbagi menjadi 3 bagian menjadikan suasana pabrik dari pagi, siang maupun malam selalu hiruk pikuk dengan aktifitas kerja

Penulis pernah tinggal di rumah dinas ini, luas banget mungkin lebih dari 1.000 m2, dulu bagus banget khas bangunan peninggalan kolonial Belanda  dengan pernak-perniknya, penulis mengalami masa paling bahagia pada masa itu
Menurut sejarah, Pabrik karung Delanggu dulunya adalah pabrik gula, di bangun Belanda pada tahun 1917,  dikarenakan produksi yang berlimpah dan daya beli masyarakat yang sangat lemah jaman penjajahan Belanda, pabrik gula ini  di hentikan produksinya pada tahun 1930 bahkan menutup pabrik gula ini pada tahun 1933 dan mengubahnya menjadi pabrik karung goni dan merubah tanaman tebu menjadi tanaman Rosella guna menjadi bahan baku pabrik karung goni. Dengan berjalannya waktu pabrik karung goni ini mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Kemudian pada masa transisi penjajahan Jepang, pabrik karung goni semakin berkembang pesat pada tahun 1942, hal ini disebabkan karung goni menjadi tempat atau wadah beras untuk di kirim ke barak-barak pendudukan Jepang. Kemudian sampai negara kita merdeka pabrik karung goni ini di nasioalisasi, akan tetapi mengalami dengan adanya gerakan G30 S PKI pada tahun 1965 dan karyawan banyak yang tersangkut menjadi anggota PKI, kemudian bangkit tahun 1965 sampai tahun 1980-an dan menjadi perusahaan negara dalam lingkup PTP XVII yang kemudian menjadi PTPN XVII. dimana pernah menjadi pabrik karung terbesar di asia.


Pabrik karung Delanggu berkantor pusat di Semarang, penulis pindah ke Semarang tahun 1984. Pada tahun 1990-an, perusahaan mulai goyah, hal ini di sebabkan biaya penanaman Rosella cukup tinggi, petani banyak yang tidak mau menanam Rosella karena penanganan tanaman yang menjadi bahan baku yang membutuhkan waktu yang lama dan susah. Permasalahan ini bisa di antisipasi dengan impor bahan baku dari Bangladesh, akan tetapi semenjak beralihnya relasi-relasi atau konsumen dari karung goni ke karung plastik, benar-benar memukul pemasaran dari pabrik karung Delanggu, sehingga tidak mampu menanggung biaya produksi terus menerus maka seluruh operasional berhenti pada tahun 1992, Perusahaan di likuidasi dan sebagian besar karyawan di PHK, hanya sejumlah kecil karyawan yang masih di butuhkan di tempatkan ke PTPN lain termasuk alm. ayah penulis, yang di mutasi ke Ujung Pandang bergabung dengan PTPN IX Ujung Pandang.

 






Berbagai kegiatan Bapak-bapak dan ibu-ibu ketika pabrik masih aktif







============================================================================













Dulu adalah perumahan dinas karyawan, bangunan khas arsitektur Belanda sekarang hancur tidak terawat

Ketika penulis napak tilas bekas pabrik Karung Delanggu, perumahan karyawan dan fasilitas-fasilatas pabrik yang komplit di jamannya,  hati ini benar-benar miris bercampur sedih, ingin marah atau protes tetapi kepada siapa? Pabrik yang dulu megah, kokoh dengan ciri khas bangunan peninggalan Kolonial Belanda yang dibangun dengan keringat bercampur darah jaman penjajahan, termasuk bangunan-bangunan bersejarah serta dulu tempat ribuan orang mencari nafkah,  sekarang di terlantarkan dan dibiarkan tergerus ganasnya alam hingga hancur dikit demi sedikit bersama perputaran waktu.













Setelah lebih dari 25 tahun pabrik tidak beroperasi mantan karyawan masih ada even untuk saling bertemu  berupa pertemuan rutin bulanan dan arisan, dulu wilayah Semarang di pusat perkantoran kota lama dekat Jembatan Berok, sekarang di rumah salah satu peserta pertemuan yang posisi rumahnya mudah di jangkau.  Bila penulis mengantar ibunda tercinta ambil pensiun atau ke pertemuan bulanan bertemu dengan mantan-mantan karyawan atau tinggal istri-istrinya, semua sudah sepuh-sepuh atau manula, jalan sudah pada saling tuntun dan banyak yang diantar anak atau cucunya.

Mantan karyawan hanya tinggal beberapa orang saja yang masih sehat, lainnya sudah banyak  yang sudah tidak bisa apa-apa lagi karena faktor usia, tinggal di teruskan para istri untuk menyambung tali silaturahmi sebagai mantan karyawan PTPN XVII pabrik karung goni dan perkebunan serat Rosella. Masih ada sarana untuk saling bertemu dalam lingkup yang luas dengan masih adanya pertemuan setiap 2 tahun sekali dalam acara Halal Bi Halal antar mantan karyawan se Jawa, jadi masih bisa saling kangen-kangenan meski kadang sudah tidak pada ingat satu dengan yang lainnya dan sangat mengharukan bila Halal Bihalal  masing-masing saling mendoakan semoga bisa bertemu kembali pada 2 tahun yang akan datang.

Demikianlah cukup di sayangkan bekas Pabrik Karung Delanggu yang bernilai sejarah dan pernah mengalami masa kejayaan se Asia kini di di kuasai oleh pihak swasta di terlantarkan dan dibiarkan rusak, suatu saat mantan karyawan beserta istri-istrinya sudah tidak tersisa lagi, semua saksi sejarah akan hilang di telan waktu dan hanya ada cerita bahwa di sini dulu tempat leluhurnya bekerja yang tinggal puing-puingnya.


+++++++++++ **************  ++++++++++




Pengalaman kerja pertama kali dengan orang Jepang



Pada tahun 2000-2002, penulis kerja di perusahaan penyalur tenaga kerja pelaut untuk kapal penangkapan ikan Jepang, dimana penulis mengurusi kapal yang datang dari lautan Internasional masuk ke perairan dan pelabuhan Semarang selanjutkan akan di dock atau di service di Docking Kodja Bahari dibeberapa bagian guna di gunakan untuk mencari ikan lagi di perairan Internasional.

Penulis bekerja mengurusi dokumen kapal dan jadi serabutan lah karena mengurusi apa saja termasuk mendampingi teknisi atau engineer dari Jepang kerena menurut info kalau bekerja di suatu perusahaan Jepang maka semua akan di di usahakan semua dari Jepang termasuk tenaga ahlinya, sedangkan bagian yang remeh temeh akan di serahkan ke tenaga kerja Indonesia, termasuk penulis sendiri...hahaha

Pengalaman yang paling mengesankan saat penulis mendampingi salah satu engineer Jepang, penulis masih ingat sekali namanya, Mr. Kinugawa umur 61 tahun saat itu, baru pertama kali datang ke Indonesia, untungnya beliau sempat belajar mesin di Australia sehingga mahir bahasa Inggris, meski bahasa Inggris penulis ngalor-ngidul alias belepotan, masih mending daripada pengalaman penulis nunggu kapal semalaman di dermaga bersama seorang teknisi dari Jepang juga baru pertama kali ke Indonesia, tidak bisa bahasa Indonesia dan Inggris sama sekali, sedangkan penulis kalau les bahasa Jepang sering mbolos...hahaha, maka kita kalau berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh alias bahasa isyarat, malah kayak orang bisu semua...ah...uh..sambil pakai isyarat misalkan makan, bergaya nyendok makan... rasanya jengkel-jengkel gimana gitu, sebenarnya pingin ngobrol saling tukar cerita, tapi apa daya padahal seminggu kita kumpul di satu kapal, setiap hari ketemu.....

Kembali ke Mr. Kinugawa, mulai dari info penjemputan dia di bandara Ahmad Yani, kesan pertama penulis terhadap beliau adalah orang yang angkuh bin sombong karena setiap diajak komunikasi jawabnya seperlunya bahkan kadang tidak jawab sama sekali. Dari bandara biasanya tamu ke Hotel tempat beliau  nanti tinggal selama kerja, meski sudah pukul 05.00 sore dia minta di antar ke lokasi tempat kerja. padahal harapan penulis setelah jemput beliau kemudian antar ke hotel, bisa langsung pulang karena sudah melebihi jam kantor. Dengan terpaksa penulis antar di lokasi kerja di wilayah pelabuhan Tanjung Mas semarang, tiba di kantor untuknya nantinya, beliau menuju kapal tempat beliau kerja sambil lihat terus jam tangan, barulah kita pulang ke hotel dan beliau tetap terus melihat jam tangan sampai ke hotel tempat akan tinggal, penulis tidak berani bertanya, karena mulai dari penjemputan, wajahnya tanpa senyum dan serius sekali bawaannya dan mulai besok penulis di suruh jemput pukul 7.30 pagi.

Singkat cerita ke esokan harinya penulis jemput dia di hotel, penulis datang lebih awal jam 7.15 pagi lebih baik datang lebih awal daripada terlambat, bisa kena semprot melihat raut mukanya yang dingin pasti orangnya temperamen, tapi pemikiran penulis kebalik 180 derajat, penulis malah kena semprot karena jemput beliau terlalu awal, dengan bahasa Inggris meski sedikit-sedikit bisa penulis tangkap, intinya beliau menyuruh jemput pukul 07.30 yang jam itu jemputnya, 15 menit kamu masih bisa makan, minum, siap-siap dan kegiatan lainnya, penulis di pesan untuk menghargai waktu...waduuuh....tepok jidat. Masih dengan serius cerita kalau di Jepang berangkat kerja harus tepat waktu, menggunakan waktu sebaiknya sebelum berangkat dan jangan sampai terlambat meski satu menit saja, karena jadwal kereta setiap menit jedanya.

Sampai di kantor, beliau jalannya santai sampai ke kapal adakalanya hari berikutnya seperti terburu-buru ke kapal, barulah penulis paham mengapa  melihat jam tangan terus, mungkin melihat berapa menit sampai ke tempat kerjanya....top....markotop....!!!, juga waktu jam kerja, tidak ada pengawas beliau tidak pernah sekali-sekali seperti pegawai-pegawai kita,  kalau ada waktu pada mainan WA, Facebook, ngobrol dan lain-lain di jam kerja, kalau beliau kerja ya kerja, bahkan pernah penulis mergoki beliau melamun buru-buru  seperti ketakutan kerja kembali, mungkin takut kali penulis melaporkan jadi kena marah atasan, padahal penulis tidak ada akses ke atasannya...hehehe, jam istirahat juga tepat pada waktunya, baru sedikit kita bisa ngobrol-ngobrol meski ada keterbatasan penulis akan bahasa Inggris...hahaha...
Setelah istirahat kembali ke tempat kerja juga di kasih waktu seperti ketika waktu pagi dan jam pulang pun juga tepat waktu tidak ada lebih awal atau molor, begitu terus malah seperti robot ya......

Barulah 1 bulan kerja di sini, ada perubahan-perubahan pola hidupnya, penulis pikir sudah tercemar budaya di Indonesia...hahaha, waktu kerja ada kalanya bicara sesuatu ke penulis, mungkin menasehati jangan buang sampah sembarangan, pernah penulis kena semprot karena buang bungkus permen ke laut, bayangin aja laut-lautku sendiri kok aku di marahi orang asing...hehehe segitunya disiplinnya dan sebagainnya yang sebelumnya programnya kerja, kerja dan kerja nggak perduli sekitarnya membuat kita bertambah akrab. kadang mungkin kangen rumah cerita istrinya umurnya selisih 2 kalinya, karena lebih sering ke luar negeri jadi telat nikah, katanya lebih cocok jadi anaknya, orangnya gemuk dan galak...hahaha, di laptopnya ada gambar mobil Mercedes digarasi yang atasnya ruangan buat apa saja karena punya rumah sudah dianggap kaya di sana, cerita mobil ini mobilnya keluaran terbaru yang di beli dari gaji kontrak setahun, punya mobil itu pengeluarannya tinggi, dari pajak dan bahan bakarnya padahal dia pakai cuma kalau ada acara keluarga belum tentu seminggu sekali atau beribadat sebulan sekali, dia cerita lebih enak naik kereta, sehat, hemat, tepat waktu dan tidak pernah ketemu macet, dia juga tanya harga mobil di Indonesia terheran-heran harganya bisa sama dengan harga di Jepang.

Yang membuat penulis kagum, mungkin gampang ya bahasa Indonesia, seminggu pertama sepatah dua patah kata sudah bisa, dalam waktu sebulan sudah bisa bicara lumayan lancar, ngomong cewek itu cantik, makanan ini enak, duit kamu banyak dan lain sebagainya padahal cuma belajar otodidak setiap mau tidur dari laptop atau mendengarkan orang-orang yang sedang bicara. Dan yang membuat penulis terkesan dengan beliau pertama kali terkesan serius, arogan dan tanpa senyum, ternyata setelah sebulan lebih disini sering melucu yang membuat penulis yang punya selera humor tinggi malah tersaingi malah sering di buat tertawa terbahak-bahak....hahaha


2 bulan tidak terasa telah berjalan, pekerjaan sudah hampir selesai tinggal trial saja, persiapan keberangkatan kapal tinggal menunggu waktu saja, semua persiapan sudah siap, ada masalah pada kapal waktu trial di tengah laut, master kapal kontak dia melalui radio, karena tanggung jawabnya sedang penulis mengurusi urusan lain sehingga tidak bisa mendampinginya, beliau keluar masih menggunakan wearpack atau baju kerja, tertangkap polisi atau aparat apa di pelabuhan tempat kapal bersandar di giring ke kantor polisi. Setelah melalui negosiasi panjang dan tawar menawar akhirnya di pulangkan dengan sejumlah uang, maklumlah mentalitas aparat kita, padahal ada kegiatan ini sudah menghasilkan in come yang lumayan besar bagi pendapatan daerah, menurut teman yang mengantar dia ke bandara, sepanjang jalan menangis seperti anak kecil katanya merasa bersalah dan menyesal tertangkap polisi, baginya sampai tertangkap polisi seperti seorang penjahat dimana dinegaranya adalah sebuah aib besar.

Sejak saat itu penulis kehilangan beliau, karena semenjak peristiwa itu kegiatan di Indonesia atau di Semarang juga di tutup karena dianggap tidak aman dan kooperatif, bahkan hanya nomer telepon atau email pun penulis tidak punya karena tidak terpikirkan sampai di situ, yang ada hanya beberapa buah foto, kenangan dan pelajaran hidup yang penulis petik dari pengalaman selama mendampingi beliau di Indonesia, 16 tahun telah berlalu, hampir tidak mungkin akan bertemu mungkin beliau sekarang kalau hidup sudah berusia 77 tahun, meski saat ini sekali-kali masih kerja-sama dengan orang Jepang akan tetapi penulis akan selalu ingat pengalaman pertama kali kerja dengan orang Jepang.

______________ *************** ______________

Rabu, 07 Januari 2015

Pengalamanku kerja di perekrutan pelaut kapal ikan Jepang

Penulis pernah bekerja di perusahaan perekrutan pelaut-pelaut Indonesia yang bekerja di kapal penangkapan Ikan Jepang tahun 1998 - 2004. seperti kita ketahui Jepang adalah negara pengkonsumsi daging ikan laut terbesar di dunia.

Aku di rekrut oleh teman yang sebelumnya kita sering kumpul bareng atau main-main musik, yang mulai menekuni bisnis yang di rintis orang tuanya melihat pengalamanku di bidang ekspor-impor, karena kebaikannya di rekrut untuk menangani masalah kapal Jepang yang masuk ke Indonesia untuk perbaikan dan isi logistik di Semarang.

Seperti perkembangan masalah perikanan yang baru-baru saat ini saya ingin memberi gambaran bagaimana bagaimana pengalamanku supaya pada terbuka wawasannya bukan hanya memuji-muji atau menghujat-hujat saja tapi kita bisa memikirkan bersama masalah ini demi masa depan kita bersama.

Yang saya lihat saat ini ada seseorang yang (maaf) cuma lulusan SMP dan merintis bisnis kecil-kecilan jualan ikan bisa menjadi seorang mentri kelautan dan membuat kebijaksanaan penenggelaman kapal-kapal penangkapan ikan asing, bagi saya ini sangat tidak efektif atau bisa memberikan dampak yang lebih panjang daripada keuntungannya yang katanya kerugian yang di gembar-gemborkankan mencapai 300 T pertahunnya, saya pikir kalau memikirkan kerugian, sekarang ini kekayaan Indonesia mana yang bisa di rasakan oleh rakyat Indonesia ? mulai dari hotel-hotel, rumahsakit-rumahsakit, mal-mal, rumah makan-rumah makan, bank-bank dan sebaginya adalah milik asing, jangankan ikan laut, hasil hutan atau tambang semua dikuasai asing bahkan air saja di ekplorasi besar-besaran perusahaan asing dan jadi kita tidak ubahnya seperti dijajah di negeri sendiri.

Sebagai gambaran, kapal penangkapan ikan dimana aku bekerja tidak beroperasi di perairan Indonesia karena tidak ada kriteria ikan yang mereka butuhkan, mereka hanya mencari jenis ikan tuna sirip biru (blue fin), mereka datang jauh-jauh ke Semarang murni perbaikan kapal, isi logistik dan perekrutan pelaut-pelaut Indonesia yang bekerja di kapal tersebut. Bahkan sebelum masuh ke perairan Indonesia mereka membuang ikan-ikan hasil tangkapannya yang tidak sesuai dengan kriteria misalkan hiu, bawal laut dan sebagainya yang katanya buat makanan ikan laut karena dianggap ikan sampah dan memenuhi cold storagenya, alhamdulillah penulis pernah mendapakan sisa ikan bawal yang belum terbuang sebesar bantal orang dewasa, sampai dirumah motong-motongnya pakai gergaji dan dibagikan ketetangga-tetangga dan dimasak sendiri seminggu tidak habis-habis...hahahaha

Inilah inti permasalahnya kalau kita serampangan menanganinya, selama ini orang Jepang senang merekrut pelaut-pelaut kita karena pekerja keras, penurut dan gaji bisa di nego daripada orang-orang Cina, Vietnam, India dll, dari rekruitmen ratusan atau bahkan ribuan pelaut-pelaut kita yang selama ini, kapal-kapal Jepang ini pasti merekrut pelaut-pelaut yang sudah berpengalaman, seperti kita lihat kebanyakan dari mereka pengalaman-pengalaman mereka bekerja di kapal-kapal asing di perairan Indonesia. Alasan mereka bekerja di kapal-kapal asing bisa buat batu loncatan bekerja di kapal-kapal Internasional seperti kapal Jepang ditempat penulis bekerja juga kapal-kapal punya orang Indonesia cuma kapal-kapal kecil, cari ikan cuma di pinggiran laut, apabila cuaca buruk cuma pada nganggur dan pada tidak kuat beli solar...weleh-weleh.

Kenapa saya katakan serampangan menghilangkan kapal-kapal asing ? seperti kita sering mengatakan "GANYANG MALAYSIA", ada berapa ribu TKI kita ada disana ? bahkan anakku yang usia 2,5 tahun tahunya panggilan guru itu CIKGU dari pada ibu guru karena seringnya film kartun Malaysia yang mendidik buat anak-anak daripada acara-acara tivi Indonesia. sama halnya penghilangan kapal-kapal asing, ada berapa ribu  pelaut-pelaut Indonesia yang bakal nganggur ? dan lagi kenapa harus ditenggelamkan kalau nelayan-nelayan kita saja cuma naik perahu kalau cari ikan bukannya lebih elegan kalau di gunakan nelayan-nelayan kita meski akhirnya paling-paling tidak kuat beli solarnya...hehehehe

Pernah penulis ngobrol sama orang yang mengetahui masalah perikanan laut, malah kapal-kapal nelayan Indonesia lebih senang bekerja sama dengan kapal-kapal penagkapan ikan asing, yaitu kapal-kapal nelayan Indonesia menjual tanggkapannya ke kapal-kapal penagkapan asing dengan alasan harga lebih baik dan bila masuk ke TPI melewati beberapa pungutan-pungutan baik yang resmi atau para preman-preman, cocok khan....hahahahaha

Sama seperti Menteri Tenaga Kerjanya buat gebrakan beneran dobrak penampungan TKI, kalau disuruh milih mereka itu lebih seneng bekerja di kampung halaman dekat dengan orang-orang yang di cintainya dari pada bekerja jauh-jauh jadi TKI, ya karena kita di negeri kita sendiri seperti peribahasa AYAM MATI DI LUMBUNG PADI, kita punya kekayaan alam berlimpah tapi dimanfaatkan negara lain, kita cuma bisa jadi jongos mereka dan mereka-mereka jadi abdi negara cuma jadi pelayan orang-orang asing seperti jaman penjajahan Belanda.

Penulis pernah kumpul-kumpul dengan beberapa orang sekedar ngopi bareng mulai mencium ketidak beresan masalah ini, jangan....jangan....karena beliaunya itu punya perusahaan perikanan yang besar merasa tersaingi dengan kapal-kapal asing ini, apalagi dekat dengan kekuasaan terus curhat....terus seperti saat ini....aaaahhhh jangan su'udzon dulu, cuma kalau mau menanggulangi kerugian negara kok cuma masalah perikanan laut saja yang di ekspose terus, masih buaaanyaaak yang belum tercover.

Kalau masalah kapal penangkapan ikan asing ilegal kita buat aja mereka jadi legal dengan mendaftarkan seperti perusahaan-perusahaan asing di Indonesia (PMA), toh yang bekerja juga banyak orang-orang Indonesia. mereka disuruh daftar, membayar pajak dan sebagainya supaya sama-sama enaknya dan kerugian bisa di tekan.





Sabtu, 26 Oktober 2013

Kenapa Pada Rebutan Jadi PRESIDEN ?

Ketika masih kecil aku ditanya orang-orang kalau besok sudah besar ingin jadi apa? Aku selalu menjawab lantang, “Jadi PRESIDEN!!!!”. beruntung penulis tidak ada jalur menuju ke sana....hehehe, jangankan mikir negara mikir warga kampung dengan segala tingkah polahnya aja pusing......

Saat ini menjelang pemilu 2014, saya berharap semuanya berjalan lancar, mengingat saya mewakili rakyat seluruh Indonesia berharap PEMILU berjalan dengan lancar, aman dan terkendali, karena bila berjalan rusuh akan mengakibatkan kerugian bagi kita semua.

Mulai dari Pak Karno, Beliau sangat berjasa bagi negara kita dengan memproklamasikan kemerdekaan negara kita, coba kita telisik keberadaan beliau yang mengklaimkan dirinya presiden seumur hidup, akhir hidupnya diasingkan dan meninggal dipengasingan.

Kemudian Pak Harto, saya benar-benar mengikuti silsilah kekuasaannya, karena pada akhir kekuasaannya menjadi musuh banyak orang, padahal pada masanya kekuasaanya negara kita mengalami kemajuan yang pesat dan disegani negara-negara lain. Hal ini tidak akan terjadi jika pada Pemilu terakhir Beliau benar-benar mengajukan pengunduran diri secara permanent, seperti Perdana Mentri Malaysia Mahathir Muhammad, maka beliau tidak akan dihujat banyak orang.

Akhir-akhir ini orang melihat sosok baru yang menjanjikan yaitu JOKOWI, jadi ingat pemilihan umum sebelumnya, dimana tidak ada calon presiden selain SBY yang mumpuni, maka sampai-sampai dipilih mayoritas rakyat Indonesia dan bahkan mencapai 60% memilih beliau, sekarang bagaimana? hinaan, hujatan bahkan banyak yang menganggap SBY sebagai presiden formalitas aja.

Bila kita menilik kandidat yang lain, ada dari kalangan pengusaha sukses bahkan untuk anak-cicitnya saja masih mencukupi, buat apa pusing-pusing mikir negara apalagi usianya tidak muda lagi ? apa yang di cari ? kejayaan ? kekuasaan ? buat apa ???? bahkan sudah tidak perduli lagi omongan orang, nasehat sesepuh bahkan hasil survey sudah tidak layak lagi maju sebagai kandidat presiden, tetep ngotot membuang-buang uangnya hanya sekedar mengangkat popularitasnya. meskipun mereka mempunyai media elektronik sendiri dengan mempunyai stasiun televisi, kita yang nonton malah bosen melihatnya tiap hari muncul di televisinya bukannya simpati kepadanya.

Melihat kondisi saat ini memimpin bangsa ini sangat berat sekali, bencana alam dimana-mana, kondisi ekonomi yang tidak menentu, jangankan dalam negeri, luar negeri pun mengalami kemunduran ekonomi yang sangat tajam, hantaman lawan politik yang terus menerus dan demo-demo yang menghiasi aktifitas kita sehari-hari. Menurut saya meskipun presiden negara maju sekalipun, misalnya George Bush atau Barrack Obama memimpin negara kita belum tentu bisa mengubah negara kita menjadi negara yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD45 untuk jangka waktu 5 tahun kedepan.

Melihat calon-calon presiden sudah pada unjuk gigi, bagi penulis masih mending dibandingkan calon-calon legislatif yang ingin eksis di dunia politik. Mereka tanpa malu-malu membuat poster-poster terpampang dipinggir-pinggir jalan dengan pose yang dimanis-maniske, di gagah-gagahin, di wibawa-wibawain dan di dandanin secantik-cantiknya untuk merayu masyarakat memilih dirinya, akan tetapi bila terpilih jangankan mikir yang memilihnya, tapi malah mengeruk keuntungan dengan menciptakan berbagai trik untuk bisa korupsi yang digunakan menutup biaya kampanye dirinya dulu atau untuk setor pada partainya. 

Jadi kita ikuti aja perkembangan selanjutnya, masyarakat kita sudah pada cerdas tidak usah di atur-atur dan iming-imingi mereka sudah ada jagonya sendiri-sendiri. masyarakat masih mengharapkan sosok yang bisa membawa negara kita lebih baik daripada sebelumnya, kita tunggu PEMILU 2014 yang akan datang......

Jumat, 25 Oktober 2013

Polisi Kok Razia Software Bajakan

Saat ada razia software, bagaikan ada wabah flu burung atau gelobang tsunami, orang-orang jangankan pengguna komputer, yang tidak tahu sama sekali komputer pada paranoid ikut-ikutan menyembunyikan perangkat komputernya. Saya sering dihubungi teman-teman yang pada menanyakan bagaimana mengantisipasinya, saya jadi ikut prihatin terhadap kejadian ini, lha wong keponakan saya kelas 4 SD saja bisa mbajak, kok ada razia dan milih-milih yang dirazia.

Ada rekan di perusahaan pelayaran yang semua data di angkut dan harus menebus sekian juta. Tidak bisa bayangkan betapa pusingnya orang-orang di situ, baik dari perusahaan pelayarannya dan customernya, kalau ada komplain dari kliennya di luar negeri, sukses deh program pemerintah peningkatan devisa dari komoditas ekspor.

Ada peraturan yang menyebutkan kalau instansi pemerintah lolos dari razia karena tidak digunakan untuk tujuan komersial, enak bener ya jadi pegawai negeri, sudah gaji dan tunjangan naik terus, banyak dari mereka datang kerja, ngobrol, baca koran, belanja pada jam kerja, terus pulang gasik dan kalau sudah jadi pejabat balapan sing korupsi bisa bekerja dengan tenang tanpa di usik hal-hal tidak bermutu seperti ini.

Sedangkan pelaku bisnis kecil, misalnya warnet, rental, jual beli komputer dll, hidupnya jungkir balik akan tambah susah, mereka itu mau pada makan apa ?, coba pada berpikir yang cerdas. Padahal mereka jumlah tidak sedikit dan banyak dari mereka yang bayar pajak untuk menggaji yang disebut para abdi negara termasuk yang merazia mereka.

Saya berani taruhan para intelektual, mulai dari S1, S2, S3 atau mungkin profesorpun banyak yang pakai software ilegal dalam menulis karya ilmiahnya. Seniman meskipun hasil seninya dibajak belum tentu juga pakai software legal, bahkan saya pernah lihat seorang polisi grothal-grathul nulis BAP juga menggunakan software bajakan.

Piye jal, memberantas korupsi malah jadi koruptor, memerangi narkoba dan judi malah pakai sendiri atau menjadi becking, kemudian merazia PSK tapi punya selingkuhan. Harusnya setiap instansi yang diberi wewenang itu kantornya banyak dikasih cermin supaya bisa pada melihat dirinya sudah bener dulu apa nggak baru menjalankan kewajibannya.

Memang kita melanggar HAKI, tapi tengoklah pembajakan software sebenarnya terbesar juga dari negara asalnya jadi kenapa kita mempersulit diri sendiri. Ada pegawai Microsoft mengatakan bahwa harga murah tidak serta merta menurunkan pembajakan, kalau saya jadi bosnya saya kasih SP dia karena ngomong begitu. Kita lebih suka beli yang legal jika terjangkau harganya dan jika ingin konsekuen memberantas pembajakan harus ada sosialisasi yang tidak cukup 1-2 tahun karena dari awal kita dicekoki oleh Microsoft dengan monopoli bisnisnya atau membatasi penjualan alat-alat pengganda dipasaran bebas, bukannya cari gampangnya saja dan digunakan untuk mencari kesempatan dalam kesempitan.

Kamis, 24 Oktober 2013

Nenek Moyangku Seorang Petani



 
 Rasa rindu kampung  halaman di desa Wangen, kelurahan Polanharjo, Klaten dan juga untuk menghilangkan penat dan sejenak melupakan segala aktifitas berbagai bentuknya di kota propinsi dengan banyak dibumbui kemunafikan, kerakusan, sifat menjilat, persaingan tidak sehat dan kemrosotan moral yang membuat penulis muak dengan semuanya itu, maka penulis menyegarkan sejenak dari hal-hal tersebut dengan mengujungi kampung halaman.

Penulis dulu malu bila diledek teman-teman SD tentang asal kampung halaman, tapi sekarang penulis bangga berasal dari sana, karena suatu desa dengan banyak kekayaan alamnya. Sepanjang perjalanan sudah beraspal, masih teringat jelas pada tahun awal 1980an, dimana jalan masih seperti kali mati dan bila jalan malam hari lampu kendaraan bahkan sepeda angin bagai satu-satunya  sumber cahaya karena hanya satu-satunya lampu yang meneranginya. Penulis pada waktu itu bila diajak ayahanda keluar malam benar-benar takut dan pegangan erat tubuhnya. Waktu di rumah nenek setiap hampir setiap petang lihat orang pada mompa Petromaks atau pada menyalakan teplok untuk penerangan rumah bahkan untuk jalan pada malam hari masih pada pakai obor dari gagang daun pepaya atau bambu dan bagi yang mampu pakai lampu baterai sebagai alat penerangannya.

Sekarang sampai pelosok jalan sudah beraspal, kalau malam hari tidak kalah dengan kota besar dengan lampu listrik yang terang benderang. Hal ini sebenarnya berkat jasa mantan presiden Soeharto yang telah membuat negara kita maju dan disegani se-Asia. Tapi apa mau dikata, manusia jauh dari sempurna, Beliau dikorbankan orang-orang disekitarnya kemudian dihujat oleh  orang-orang yang latah dan haus popularitas pada akhir jabatannya. Tapi penulis yakin suatu saat orang-orang akan membuka mata lagi bagaimana jasa-jasanya dan kembali menyanjung beliau. Dari Patih Gadjah Mada, Soekarno sampai Soeharto sebenarnya membuka mata kita bahwa kehidupan itu bagai roda yang berputar, seperti halnya dulu dengar nama Mike Tyson, dengar namanya saja kita gemetar apalagi ketemu orangnya langsung karena serem tapi sekarang bagai macan ompong, inilah hukum alam yang dibuat dan manusia siapapun dia tidak akan bisa menghindarinya.

Yang membuat Penulis sayangkan dari pemandangan desa yang asri, dulu penulis sehabis pulang sekolah atau pas liburan sekolah bersepeda ke kolam renang alam Cokro Tulung, dimana sumber air menyembur alami, tapi lain dengan Lumpur Lapindo yang membawa derita berkepanjangan, tapi ini membawa berkah penduduk sekitar. Dengan teman-teman bersepeda menikmati perjalanan udara sejuk, kicau burung bersahutan dan pemandangan padi yang menghijau bila baru tanam dan menguning bila akan panen. Sekarang sudah berubah fungsinya, banyak sekali sudah berujud pangkalan truk, rumah penduduk, pertokoan dan sebagainya. Persawahan yang tidak mengharapkan pengairan dari air hujan dan beras yang sudah tersohor pulennya akan lambat laun berkurang produksinya bahkan akan menghilang dari peredarannya bila tidak diantisipasi ke depannya.  Kemana larinya para petani? Mereka banyak beralih profesi sebagai buruh, pencari burung, belut, ikan dan sebagainya. Menyedihkan sekali sebagai penduduk asli tergusur oleh kaum pendatang dan merusak alam pula dimana mereka memperoleh makan dengan mengeksplorasi alam besar-besaran.

Saat ini orang lebih suka pegang handphone dari pada cangkul atau pergi ke mall dari pada ke sawah, bahkan pergi ke sawah seperti pergi ke tempat yang asing atau dijadikan tempat rekreasi, mereka pada lupa kita itu makan nasi dan asalnya dari sawah. Sebenarnya negara kita terkenal dengan sebutan “Gemah ripah loh jinawi” bahkan di syair lagu Koes Plus dinyanyikan “Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”, cukup mengherankan ketika penulis bezuk teman yang sakit di rumah sakit membeli oleh-oleh buah di toko buah yang di bilang sangat kecil dan terpencil, menjual beraneka buah impor mulai dari China,  New Zeland, Amerika atau Thailand. Padahal penulis pernah bekerja di bagian dokumen  ekpor dan impor paham betul menangani dokumen-dokumennya. Kok bisa barang mudah busuk ribuan kilometer masuk ke toko kecil di pelosok pula. Kadang pikiran penulis agak ngelantur, jangan-jangan diberi pengawet seperti halnya pada daging yang diberi formalin? Penulis juga punya pohon buah-buahan, contoh saja buah jambu matang yang penulis petik, 1-2 hari tidak dimakan paling sudah busuk atau waktu penulis beli pepaya di sepanjang jalan di daerah perbatasan Boyolali, pada waktu beli masih hijau keesokan harinya sudah masak dan 2 hari berikutnya sudah busuk meski dimasukan dalam lemari es. bayangkan saja buah impor dari panen, pengiriman sampai didistribusikan ke toko-toko buah di Indonesia sudah memakan waktu berapa hari meski jenis buahnya tidak mudah busuk? Makanya penulis mencuci berkali-kali atau mengupasnya kalau makan buah-buahan impor. Juga penulis bertanya-tanya, buah-buahan kita yang beraneka ragam pada kemana?  apalagi bahan pokok lainnya seperti beras, kedelai, gandum dan lain-lain, semuanya juga impor, terus kita sebutan negara Agraris itu apa masih relevan, wong yang menunjukan identitas negara Agraris beli dari negara lain.  Uangnya dari mana ?, memang ada yang berasal dari perdagangan international, dari penerimaan pajak, pinjaman atau bantuan negara lain, itupun sudah pada disunat sana-sini!.

Tahu dan tempe adalah makanan rakyat, murah dan meriah asli dari Indonesia meskipun pada perkembangannya diklaim berasal dari negara lain. Berarti menurut pandangan penulis berarti dulu kita menanam kedelai sendiri kemudian mengolahnya menjadi tahu dan tempe tersebut. Suatu pagi penulis sarapan dengan lauk tahu dan tempe karena memang lauk favorit yang masih bisa terbeli sambil melihat berita pagi di televisi, dimana dalam salah satu beritanya para pembuat tempe dan tahu demo karena harga kedelai akan naik 100%, lha yang penulis makan ini apa nanti juga naik 100% ? lalu kenapa harus impor ?, kenapa kita tidak bisa menanam sendiri, wong asal tahu dan tempe itu dari negara kita, berarti dulu khan belum ada impor ?

Negara kita saat ini jangankan di bidang ekonomi, olah raga maupun pendidikan sudah mulai tertinggal dari negara-negara terdekat. Teman penulis seorang pelaut dulu pernah takut singgah ke negara Vietnam karena terimajinasi film-film perang Vietnam yang brutal dan kejam, tapi ketika singgah katanya tak ubahnya seperti kota Semarang yang damai dan penduduknya yang ramah-ramah dan sekarang Vietnam menjelma menjadi salah satu negara maju mengalahkan negara kita. Ketika penulis lulus SMA, memimpikan bisa kuliah di Yogyakarta sebagai kota pelajar dan budaya, penulis bertemu banyak pelajar asing dari Malaysia, Thailand termasuk dari Vietnam menuntut ilmu Pertanian pada kita,  sekarang negara kita malah beli beras dari negara-negara mereka !

Dulu masing-masing Universitas mempunyai kelebihan sendiri-sendiri, misalnya Undip terkenal Fakultas Hukum dan Kedokteran, UNS terkenal dengan Fakultas Pertanian, UGM terkenal dengan Sospol dan Ekonomi, sekarang? Semua Universitas kompak mencari mahasiswa sebanyak-banyaknya, baik untuk kelas pagi, siang, malam bahkan program akhir minggu untuk mencari income sebanyak-banyaknya sedangkan mutu nomer sekian. Hasilnya pada kemana lulusan sarjana Pertanian? Mereka lebih suka kerja jadi sales mobil, jual beli komputer dan handphone, kerja di bank, mall atau di kantor-kantor pemerintah mungkin atas referensi ortunya dan diselingi pelicin atau wirausaha lain jauh dari dunia pertanian, .

PTPN sebagai wadah pencari kerja lulusan pertanian makin susah payah, di luar Jawa tersaing dengan pihak swasta, di Jawa lahan makin sempit karena desakan ledakan jumlah pertumbuhan penduduk. Kita lihat banyak lahan tanaman keras, seperti kelapa sawit, kopi, coklat dan lain-lain pada di rusak penduduk kemudian ditanami singkong, jagung dan sebagainya dengan alasan lahan tersebut kepunyaan leluhurnya yang diambil alih oleh pihak PTPN secara ilegal. Kita bandingkan waktu jaman pak harto, meski pak Habibi mempelopori pembuatan pesawat sendiri tapi beliau masih memikirkan dan melindungi dunia pertanian, peternakan dan perikanan, tapi sekarang orang terimbas dari reformasi yang kebablasan, mereka pada mikir dirinya sendiri, keluarga atau golongannya dan mikir gampangnya saja kalau terusik akan menuntut dan demo.

Menurut penuturan teman SMA penulis yang bekerja di Amerika, kalau di sana jika tidak ada supply bahan makanan dipastikan akan pada mati kelaparan karena sepanjang mata memandang semua permukaan tanah adalah jalan dan bangunan, sedangkan di sini masih tersedia tanah yang luas sekali dan belum sepenuhnya dimanfaatkan malah cenderung banyak yang disia-siakan  juga di sini masih banyak yang bisa dimanfaatkan untuk bahan makanan, misalkan saja orang jaman dulu mengambil bunga pohon pisang atau tunas bambu  dibikin makanan.

Penulis pernah punya atasan orang Jepang, dia bercerita kalau di Jepang profesi petani sama mulianya dengan profesi-profesi lainnya, seperti pegawai negri, guru, dan lain-lain. Pemerintah sangat memperhatikan nasib mereka, lahan pertanianpun sangat di lindungi dan meskipun   beras impor menyerbu negara Jepang, masyarakat lebih suka makan beras produksi sendiri padahal harganya jauh lebih mahal. Coba bandingkan dengan negara kita, beras untuk rakyat miskin (Raskin) yang asalnya dari sumbangan negara lain saja buat bancaan pejabat-pejabat yang membaginya.  Hampir disemua bidang saat ini banyak tidak beresnya, termasuk juga dalam tata niaga pertanian kita, mulai dari penyaluran kredit dan pupuk sampai penjualan produksi semua tidak lepas dari penyelewengan, maka para petani pada jual tanah saja dari pada pusing mikirnya. Menurut hemat penulis jangan dibiarkan berlarut-larut, jika pemikiran para petani seperti orang-orang sekarang, kalau dirinya, keluarganya, atau golongannya tidak puas atau diusik kemudian ramai-ramai demo, terus para petani pada kompak tidak mau tanam padi, kita mau makan apa?

Bersama tulisan ini, penulis bukan menjelek-jelekan bangsa kita sendiri, tapi memberi gambaran betapa suramnya bangsa kita saat ini di bidang pertanian. Adapun cita-cita penulis, seperti apa yang telah dilakukan oleh orang yang penulis hormati yaitu almarhum ayahanda  tercinta Soewito Brotoatnoyo, dimana mengisi hari-hari sisa hidupnya setelah pensiun dengan  tetap eksis  di dunia pertanian  dengan menggarap tanah peninggalan leluhur dan melestarikan alam   karena nenek moyangku adalah seorang petani.

Ditulis oleh
Pongki Soewito
Putra dari Alm. Soewito Brotoatnoyo,
Pensiunan Karyawan PTPN XVII